Selasa, 16 Februari 2010

KEAJAIBAN BERAKHLAK BAIK


Siang itu saya di Rumah Amalia kedatangan seorang tamu, anak muda yang bercerita bahwa di dalam hidupnya senantiasa dimudahkan, 'sewaktu sekolah bukanlah termasuk ranking di dalam kelas, begitu selesai bisa langsung kerja, sampai bekerja pun termasuk yang biasa-biasa aja namun kariernya sampai puncaknya,'ucapnya.


'Bagaimana anda bisa melakukan semua itu?' tanya saya padanya.


'Ibu saya selalu mengajarkan agar senantiasa berbuat baik kepada orang lain, perlakukanlah orang lain sebagai engkau ingin diperlakukan.' jawabnya dengan mata berkaca-kaca, menerawang seolah teringat nasehat ibunda tercinta. Itulah keajaiban perbuatan baik yang telah menjadi akhlak yang baik. Akhlak yang baik dan mulia selalu membawa keberuntungan bagi hidup kita.


Akhlak adalah keadaan batin seseorang yang menjadi sumber lahirnya perbuatan dimana perbuatan itu lahir dengan mudah tanpa memikirkan untung rugi. Bagi orang yang berakhlak baik, berbuat baik adalah satu ekpresi, bukan transaksi, oleh karena itu perbuatan baiknya mengalir begitu saja tanpa harus mempertimbangkan untung rugi. Yang dimaksud dengan perbuatan adalah kegiatan fisik atau mental yang dilakukan secara sengaja dan bertujuan. Perbuatan bisa berujud aktifitas gerak, bisa juga berwujud diam tanpa gerak. Tidak berbuat dan tidak berkatakata yang dilakukan secara sengaja adalah suatu perbuatan yang bernilai akhlak. Oleh karena itu bagi orang yang berakhlak, perkataannnya, perbuatannnya dan diamnya diukur secara cermat, kapan harus berkata dan kapan harus diam, kapan harus bertindak dan kapan harus berdiam diri. Akhlak mengandung dimensi vertikal, horizontal dan internal, oleh karena itu kemanfaatan hidup berakhlak dirasakan oleh masyarakat dan oleh orang yang bersangkutan.


Kejaiban Hidup dengan berakhlak baik hadir dalam berbagai bentuk, diantaranya sebagai berikut ini:


1. Dapat menikmati ketenangan hidup. Ketenangan dalam hidup diperoleh oleh orang yang tidak memiliki konflik batin, konflik interest. Konflik batin timbul disebabkan oleh ketidak mampuan seseorang berakrab-akrab dengan diri sendiri, dengan kemampuan diri sendiri, dengan apa yang telah dimiliki. Pusat perhatian orang berakhlak ialah pada bagaimana menjadikan dirinya bermakna, bermakna bagi keluarga, masyarakat dan bangsa serta kemanusiaan sesuai dengan nilai yang diajarkan oleh Tuhan Sang Pencipta. Dari segi ini orang yang berakhlak selalu bekerja keras tak kenal lelah untuk orang lain, yang dampaknya pulang kepada diri sendiri, yaitu tidak hirau terhadap kesulitan pribadinya. Secara internal orang berakhlak selalu mensyukuri nikmat Allah kepada dirinya sehingga ia merasa telah diberi banyak dan banyak memiliki. Dari itu ia selalu berfikir untuk memberi dan sama sekali tidak berfikir untuk menguasai apa yang telah dimiliki orang lain.


2. Tidak mudah terguncang oleh perubahan situasi. Perubahan merupakan sunnatullah dalam kehidupan. Terkadang perubahan terjadi dengan amat cepat, membalik keadaan begitu rupa, yang selama ini berkuasa jatuh terhina, yang terhina naik ke atas panggung, yang selama ini ditabukan justeru berubah menjadi perilaku umum setiap hari, yang mudah menjadi sulit, sebaliknya yang semula mustahil menjadi sangat gampang. Bagi orang yang berakhlak, perubahan itu tak lebih hanya sunnatullah kehidupan, sementara sunnatullah itu sendiri justeru tidak berubah. Oleh karena itu bagi orang yang berakhlak, yang menjadi perhatian adalah bukan perubahannya, tetapi yang tidak berubah, yaitu kaidah-kaidah sunnatullah, seperti kebenaran akan jaya dan kebatilan akan runtuh, bahwa setiap kesulitan akan membawa kemudahan, bahwa kejujuran akan mendatangkan keberkahan, bahwa yang yang buruk, meski disembunyikan akan terbuka, bahwa yang baik meski sedikit akan diakui juga , bahwa merendahkan diri akan mendatangkan kemuliaan dan bahwa kesombongan akan berakhir dengan kehancuran. Bagi orang berakhlak dengan akidah tersebut diatas, ia akan memandang perubahan situasi justem dengan perspektif sunnatullah yang tidak berubah. Oleh karena itu ia tetap tenang di tengah perubahan zaman.


3. Tidak mudah tertipu oleh fatamorgana kehidupan. Kehidupan yang kita jalani memang benar-benar merupakan realitas, tetapi tak jarang apa yang ditawarkan kepada kita dan apa yang sedang kita ikuti sebenarnya bukan realitas tetapi hanya fatamorgana belaka. Bahwa untuk menjadi pandai orang harus belajar adalah realitas, bahwa untuk mencapai ke tingkat sosial tertentu orang harus berjuang melalui tahap-tahap pekerjaan adalah realitas, bahwa untuk menjadi kaya orang harus berusaha secara ulet serta membutuhkan waktu adalah realitas. Sebaliknya untuk menjadi pintar mendadak, menjadi kaya mendadak, untuk mencapai kedudukan tinggi secara mendadak adalah lebih sering merupakan fatamorgana yang menipu. Bagi orang yang berakhlak, fatamorgana kehidupan tidak menarik baginya, karena ia justeru tertantang untuk mengatasi kesulitan secara realistis. Orang yang berakhlak tahu persis makna sabar, yaitu tabah hati tanpa mengeluh, dalam menghadapi cobaan dan rtintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam kerangka mencapai tujuan. Orang sabar tahu persis bahwa menggapai tujuan bukan suatu yang mudah karena untuk itu membutuhkan waktu dan keuletan dalam menghadapi rintangan. Hanya orang dalam keadaan lemah mental atau tertekan sajalah yang mudah tertipu oleh fatamorgana kehidupan, kepada sesuatu yang nampaknya sangat menjanjikan tetapi sebenarnya tipuan belaka.


4. Dapat menikmati hidup dalam segala keadaan. Sudah menjadi sunnatullah bahwa hidup manusia mengalami pasang dan surut, terkadang beruntung, di lain kali merugi, terkadang disambut oleh banyak orang, di lain kali dimaki dan bahkan diusir oleh orang banyak. Bagi orang yang berakhlak, karena prinsip hidup lurus yang selalu dipegang, maka ia selalu siap menghadapi keadaan surut maupun keadaan pasang. Di waktu beruntung ia bersyukur kepada Tuhan, berbagi rasa syukurnya kepada orang lain dan tidak menghambur-hamburkan keberuntungannya. Meski keberuntungan melimpah ruah, orang berakhlak tetap hidup wajar, tidak berlebihan dan tetap menjadi dirinya. Ketika sedang mengalami surut dalam hidupnya ia sabar, tidak mengeluh dan menerima apa adanya. Meski dalam keadaan serba kekurangan secara materi, orang yang berakhlak masih tetap memiliki keindahan dalam hidupnya karena ia tetap bisa melakukan sesuatu yang bermakna. Adapun orang yang tak berakhlak ketika beruntung ia lupa daratan berfoya-foya dengan keberuntungannya, dan ketika jatuh merugi ia lupa ingatan, sedih berkepanjangan, stress dan ada yang bunuh diri.


Diambil dari blog agussyafii


Senin, 21 Juli 2008

KECERDASAN SPIRITUAL



Kemampuan untuk memberi makna positif terhadap sesuatu hal atau kejadian, akan membuat langkah kita menjadi lebih ringan dalam menjalani hidup.Kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia untuk memberi makna atas apa yang ia alami dan jalani. Kecerdasan spiritual adalah lebih kepada keyakinan bahwa apa yang dilakukannya itu bernilai luhur, sehingga memberi makna bagi kehidupannya.


Sesuatu yang bisa memberikan makna bagi hidup seseorang adalah sangat relatif. Ada yang merasa dirinya lebih bermakna tatkala ia bisa memberikan bantuan kepada orang lain. Ada yang merasa dirinya lebih berarti dengan mengajar anak-anak pedalaman daripada bekerja di perusahaan besar. Ada juga yang merasa bermakna ketika menjadi pekerja sosial, sebagian dari kita mungkin merasa bermakna jika mampu menyekolahkan anak-anak kita, bahkan ada juga yang merasa hidupnya lebih bermakna dengan bernyanyi.


Kepedulian kepada sesama manusia, kecintaan kepada alam, kecintaan pada kesenian, kecintaan pada diri sendiri, kecintaan pada negara, kecintaan pada harta benda, kecintaan pada Tuhan, adalah wujud yang beragam dari kecerdasan spiritual. Bagi para pelakunya, semua hal tersebut bisa memberikan rasa bermakna dan nilai spiritual.


Jadi jelaslah bahwa manusia bisa merasa memiliki makna dari berbagai hal. Namun, makna sejati dalam pandangan yang lebih jauh, bagi kebanyakan orang didapatkan dari agama. Bermakna di hadapan Tuhan adalah sumber makna yang lebih hakiki dan kekal.


Kebahagiaan yang anda rasakan adalah merupakan kecerdasan spiritual. Rasa bahagia muncul tatkala kita melakukan sesuatu yang bermakna menurut kita. Sesuatu yang menimbulkan rasa senang belum tentu mendatangkan kebahagiaan. Punya mobil dan rumah mewah membuat kita merasa senang. Tetapi Ini bukan rasa bahagia. Makan dan minum enak, bermain dan bersenda gurau membuat kita merasa senang. Tetapi ini juga bukan rasa bahagia. Sebaliknya saat melihat anak-anak yatim piatu tertawa gembira karena menerima hadiah dari kita, timbul rasa haru dan bahagia. Padahal kita kehilangan uang untuk membelikan mereka hadiah. Rasa bahagia juga muncul saat melihat anak-anak kita lulus sekolah, walaupun tidak sedikit cucuran keringat yang telah kita keluarkan untuk itu.


Kita merasa bahagia karena kita merasa bermakna. Kebahagian tidak bisa diberikan oleh harta benda, pangkat jabatan, atau apapun pencapaian prestasi.


Kebahagian hanya bisa muncul jika kita memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi.


Dikutip dari website milyuner



LINK BANNER