Jumat, 14 Februari 2014

S U J U D


Harapan, jalan keluar, dan solusi akan selalu ada bila saudara bertuhan Allah. Karena, semua itu Allah yang punya. 

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Tidak ada yang mustahil untuk Allah. Selalu ada itu semua.

Yuk, kita lihat ayat berikut ini. Ayat ini pernah memotivasi saya. Ayat ke-27 Surah as-Sajdah.


“Dan, apakah mereka tidak memerhatikan bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke Bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang daripadanya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan?"

Saya melihat Allah menghalau awan yang mengandung air ke Bumi yang tandus hingga Bumi itu kemudian subur dan bisa bermanfaat.

Siapa yang mempunyai awan tersebut dan siapa yang mempunyai Bumi yang tandus? Tentu saja adalah Allah. Persoalan dan jawaban, Allah yang punya. Subhanallah. Lalu, mengapa kita bisa mencari pertolongan selain Allah? Sedang dua-duanya di tangan Allah?

Saya melihat ayat itu. Lalu, saya bahagia. Saya tersenyum. Saya yakin semua harapan pasti selalu ada. Semua jawaban selalu ada. Semua solusi juga selalu tersedia. 

Itu semua bukannya tidak ada, kok. Persoalannya adalah apakah Allah mau “menghalau” itu semua? Menggiringnya? Hingga ada di hadapan kita?

Obat bukannya tidak ada. Tapi, Allah yang belum mengasih (memberi) buat kita. Obat-obat yang diminum sama yang sakit jadi tidak ada pengaruh semua. Duit, pekerjaan, proyek, tagihan, jodoh, bukan tidak ada. Pastinya semua ada. 

Saya yakin. Allah menyediakan persoalan, pasti berikut jawabannya. Tapi, duit, pekerjaan, proyek, tagihan, jodoh, tidak atau belum disodorkan oleh Allah buat kita.

Melihat isi ayat itu, adanya di Surah as-Sajdah, saya lalu tersenyum dan juga bahagia. Sebab apa? Saya baik sangka sama Allah dan kagum sama Allah. Bahwa semua yang kita perlukan—sebagai “awan yang mengandung air”—untuk membuat Bumi yang tandus jadi subur adalah sujud. Ya, sujud. Kita harus bersujud.

As-Sajdah berarti sujud. Dan, memang persoalan ini persoalan abad ini juga. Makanya, orang kayak kehilangan arah.



Sumber : http://www.republika.co.id/ penulis Ust. Yusuf Mansur dalam Rubrik Khazanah Sub Topik Hikmah

Jumat, 24 Januari 2014

KUNCI HIDUP SUKSES DAN BAHAGIA

Apa itu sukses? Jabatan tinggi, uang banyak, rumah megah, mobil mewah, berjejernya kartu-kartu di dompet, dihormati banyak orang? Begitu ya?

Banyak yang mendefinisikan sukses dengan pencapaian-pencapaian yang telah disebutkan sebelumnya. Apa semua itu salah? Tidak juga. Tapi pemahaman sukses yang seperti itulah yang membuat kita merasa sulit untuk mencapai kesuksesan itu sendiri. Kalau kita tidak bisa memenuhi syarat untuk menjadi orang sukses yang seperti itu, maka sulitlah kita untuk menjadi bahagia. Yang ada hanya mengeluh karena keadaan yang tidak berubah menjadi lebih baik.

Mengapa jika kita sukses lantas kita tidak juga bahagia? Padahal kebahagiaan tidak setara dengan kesuksesan. Kebahagiaan tidak mensyaratkan kesuksesan. Dave Gardner berkata, “Success is getting what you want. Happiness is wanting what you get.” Sukses adalah mendapatkan yang kita inginkan. Sedangkan, bahagia adalah menginginkan apa yang kita dapatkan.

Tepat apa yang dikatakan oleh Gardner di atas. Sukses itu berarti mencapai apa-apa yang kita targetkan. Ketika kita berhasil mencapainya, kita dikatakan sukses. Sedangkan, kebahagiaan itu menginginkan apa saja yang kita dapatkan. Artinya, kita menikmati hal-hal yang kita miliki. Betapapun kecil dan sederhana, kita mampu menikmatinya. Inilah yang akan menimbulkan kebahagiaan.

Kalau saja kebahagiaan hanya didapatkan dari syarat-syarat sukses definisi banyak orang tersebut, maka akan terlihat bertebaran orang-orang yang tidak bahagia di muka bumi ini. Coba perhatikan, banyak orang-orang kecil dengan berpenghasilan minim bisa asik bercengkrama dengan keluarga dan bisa tidur dengan sangat nyenyak. Malah ada sebagian orang yang kita anggap sukses dengan definisi tersebut tidur gelisah dan banyak permasalahan. Senyum saja mahal untuk dia.

Kebahagiaan milik semua orang. Tidak ada syarat seseorang untuk menjadi bahagia. Pun, jika dia tidak punya apapun, dia punya pilihan untuk bahagia. Tergantung masing-masing individu memandang hidupnya dan anugerah yang tercurah dari Allah SWT. Kuncinya adalah syukur. Syukur juga mengajarkan agar nikmat-nikmat yang diberikah Allah kepada kita digunakan untuk ketaatan kepada-Nya. Inilah kebahagiaan hakiki. Karena, kebahagiaan hakiki terletak pada ketaatan kepada Allah dan tidak melakukan kedurhakaan kepada-Nya.



Minggu, 23 Juni 2013

DOA AGAR KITA TETAP TAAT KEPADA ALLAH SWT

Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barokaatuh

Sahabatku, sedang apa kalian di malam ahad ini? Semoga kalian tetap selalu ingat dan taat kepada Allah. 


Karena tidak ada kebahagiaan selain hidup dalam taat (QS Yunus 62-63). Sahabat Rasulullah, Muadz bin Jabal bertanya, "Ya Rasulullah, doa apa yang harus kubaca yang membuat hatiku selalu dalam keimanan dan  ketaatan kepada Allah?"

Rasulullah mengajarkan doa itu, "Robbi ainni alaa dzikrika wa syukrika wa khusni ibaadatik", "Ya Robbku, tolong hamba agar selalu ingat pada-Mu, selalu bersyukur atas nikmat-Mu, dan selalu beribadah terbaik pada-Mu ... Aamiin". 

Imam Ghozali menyebutnya hamba yang selalu berzikir, bersyukur, dan beribadah khusuk, "halaawaturruuhiyyah" hamba itu tenggelam dalam kelezatan spiritual yang sangat membahagiakannya, itulah kekayaan sejati yang dicari para pencari kesenangan, dan sungguh ia berada pada puncak rahmat Allah. 


Hafalkan doa ini, baca dalam setiap doa, setiap selesai shalat fardhu dan di pengujung malam. 

Diambil dari artikel Pojok Arifin Ilham http://republika.co.id 

Sabtu, 16 Maret 2013

ANTARA DOA DAN TAKDIR

Ustadz, Benarkah doa dapat mengubah takdir seseorang?

Sebelum menjawab pertanyaan anda, ada baiknya kita perhatikan terlebih dahulu hadist berikut ini : "Tiada sesuatupun yang dapat menolak takdir kecuali doa dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya" (HR.Tirmidzi dan Hakim)



Dari hadist tersebut kita dapat menyimpulkan betapa DOA memiliki kekuatan yang tak terhingga bagi setiap muslim. Itulah sebabnya kenapa  kemudian doa merupakan senjata orang beriman dalam perjuangannya mencapai tujuan hidup. Doa merupakan cahaya yang dapat mengubah seorang muslim ke arah yang lebih baik.

Artinya doa mampu mengubah takdir atau nasib manusia dari kehidupan sengsara menjadi berbahagia serta dari miskin menjadi kaya. Doa merupakan pemicu untuk mengaktualisasikan potensi diri dalam bentuk aktivitas, aksi dan ikhtiar dalam mewujudkan cita-cita. 

Doa merupakan faktor spritual yang merupakan sumber energi yang sangat hebat sebagai pembangkit harapan, semangat serta jaminan untuk meraih yang dicita-citakan. Doa merupakan bagian dari faktor yang efektif dalam kehidupan seseorang mukmin yang berpengaruh atas perubahan nasib manusia untuk berpindah dari takdir buruk kepada takdir yang baik. Wallahu a'lam.

Jumat, 08 Februari 2013

DOA KEMUDAHAN SEMUA URUSAN



Sumber : Page FB Yusuf Mansyur Network

Sabtu, 30 Juni 2012

PEMBERSIH DOSA

Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barokaatuh,

Sahabatku tercinta ada hal sederhana yang mudah kita lakukan setiap selesai shalat. Hanya butuh waktu lima menit kurang lebih tetapi menjadi "mimsakhohthul dzunuubi" pembersih dosa-dosa kita, kecuali dosa besar wajib disertai tobat.


Dari Abu Hurairah,  Rasulullah bersabda, "Siapa yang membaca subhanallah setiap selesai shalat 33 kali, membaca Alhamdulillah 33 kali, dan membaca Allahu Akbar 33 kali sehingga jumlah 99 Kali, kemudian ia menggenapkannya 100 kali dengan membaca La Ilaaha Illalaah Wahdahu la Syariika Lahu Lahul  Mulku wa Lahulhamdu Yuhyi wa Yumiitu wa Huwa Alaa Kulli Syain Qodiir. Maka segala kesalahannya akan diampuni meskipun "mitsla jabadil bahri" seperti buih di lautan banyaknya". (HR Muslim).


Subhanallah betapa besar rahmat cinta kasih sayang dan magfiroh ampunan Allah  untuk kita semua, padahal baru sekali baca saat selesai sholat, bayangkan kalau dibaca setiap selesai sholat, sebelum tidur, saat dijalan dan setiap kesempatan alangkah bersih terangnya hati-hati mukmin itu.

Karena itu sahabatku berjanjilah setiap selesai shalat tidak beranjak sebelum membacanya. Insya Allah... Aamiin.




Kamis, 19 Januari 2012

JANGAN MENUNGGU NIKMAT DIAMBIL KEMBALI


Sebagian dari kita seringkali merasa 'harus' bersyukur ketika nikmat telah diambil. Ketika Sakit menyadari Sehat. Ketika Sibuk menyadari nikmat senggang. Ketika Miskin menyadari nikmat berpunya.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya, jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'.'' (QS Ibrahim [14]: 7).

Sudah seharusnya kita sebagai hamba bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Mulai dalam kandungan ibu sampai menjadi manusia yang bisa berpikir hingga kembali pada-Nya adalah nikmat Allah yang tidak terhingga. Mulai dari kesenangan hidup, rezeki, dan kasih sayangnya yang tak pernah putus.

Akankah kita mengingkari, menentang, melanggar, dan tidak mau mengabdikan diri kepada-Nya? Dari ayat di atas, kita dapat menarik hikmah bahwa bersyukur adalah sebuah jalan untuk mencari keridhaan-Nya. Sebaliknya, bila manusia mengingkari nikmat-Nya, bersiaplah menerima azab yang sangat pedih.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan anugerah yang diberikan Allah. Kita mesti bersyukur saat memperoleh kesenangan dan bersabar saat tertimpa musibah.

Rasulullah SAW bersabda, ''Perkara orang Mukmin itu mengagumkan. Sesungguhnya, semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang Mukmin. Bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.'' (HR Muslim No 5318).

Sesungguhnya, nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita sangat banyak jumlahnya dan tak terhingga. Semua yang diberikan itu, sekiranya suatu saat Allah menagihnya, kita tidak akan sanggup untuk membayarnya. Sebab, nikmat itu diberikannya setiap saat dan tak pernah berhenti, mulai dari bangun tidur hingga kita tertidur lagi. Alangkah pengasih dan penyayangnya Allah kepada kita, umat manusia.

Allah SWT berfirman, ''Dan, Dia telah memberikanmu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan, jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).'' (QS Ibrahim [14]: 34).

Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk bersyukur kepada manusia. Karena, syukur kepada manusia merupakan salah satu bentuk tanda syukur kepada Allah SWT. ''Siapa yang tidak pandai bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah.'' Abu Isa berkata, ''Ini adalah hadis hasan sahih.'' (HR Tirmidzi No 1877).


PENTINGNYA BERSYUKUR

Seorang sahabat bernama Atha, suatu hari menemui Aisyah RA. Lalu ia bertanya, "Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang menakjubkan dari Rasulullah SAW?" Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Aisyah menangis. Lalu Aisyah berkata, "Bagaimana tak menakjubkan, pada suatu malam beliau mendatangiku, lalu pergi bersamaku ke tempat tidur dan berselimut hingga kulitku menempel dengan kulitnya."

Kemudian Rasulullah berkata, "Wahai putri Abu Bakar, biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanmu." Aisyah menjawab, "Saya senang berdekatan dengan Anda. Akan tetapi, saya tidak akan menghalangi keinginan Anda." Rasulullah lalu mengambil tempat air dan berwudhu, tanpa menuangkan banyak air.

Nabi SAW pun shalat, lalu menangis hingga air matanya bercucuran membasahi dadanya. "Beliau ruku, lalu menangis. Beliau sujud lalu menangis. Beliau berdiri lagi lalu menangis. Begitu seterusnya hingga sahabat bernama Bilal datang dan aku mempersilakannya masuk," papar Aisyah.

"Ya Rasullulah, apa yang membuat Anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang lalu maupun yang akan datang," tanya Aisyah. "Tak bolehkah aku menghendaki agar menjadi seorang hamba yang bersyukur?" ungkap Nabi SAW.

Kisah yang tercantum dalam kitab Mukasyafah al-Qulub: al-Muqarrib ila Hadhrah allam al-Ghuyub Fi'ilm at-Ashawwuf karya Imam Ghazali itu mengandung pesan bahwa umat manusia harus selalu mensyukuri setiap nikmat yang dianugerahkan Allah SWT.

Pentingnya bersyukur telah dijelaskan dalam surah Ibrahim ayat 7. Allah SWT berfirman, ".... Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

Sepertinya, kita perlu belajar dari sejarah Kaum Saba'. Dikisahkan, Kaum Saba' begitu maju peradabannya. Mereka menguasai teknologi yang tertinggi pada zamannya, yakni telah berhasil membangun bendungan Ma'rib. Menurut penulis Yunani, Ma'rib merupakan salah satu kota termaju saat itu (sekarang Yaman) dan memiliki lahan yang subur.

Bendungan Ma'rib mampu mengairi sekitar 9.600 ha lahan subur. Negeri itu pun kaya-raya. Namun, karena mereka tak bersyukur atas nikmat yang begitu melimpah, maka Allah menurunkan banjir besar yang menghancurkan semua kekayaan yang dimiliki penduduk negeri Saba'. Dalam suatu tafsir dijelaskan, mereka diberi azab karena tak taat kepada seruan nabi utusan Allah.

Akhir-akhir ini, bangsa kita didera bencana yang beruntun, mulai dari bencana alam hingga bencana kerusuhan horisontal yang merenggut begitu banyak korban jiwa. Sepanjang tahun, bencana dan kecelakaan datang silih berganti. Boleh jadi, semua itu merupakan ujian dari Allah untuk menguji keimanan kita. Bisa pula, bencana itu merupakan peringatan atau bahkan siksaan (azab) dari Allah karena kita tak bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya.


CARA BERSYUKUR


Ada beberapa cara mensyukuri nikmat Allah swt. Pertama, syukur dengan hati. Ini dilakukan dengan mengakui sepenuh hati apa pun nikmat yang diperoleh bukan hanya karena kepintaran, keahlian, dan kerja keras kita, tetapi karena anugerah dan pemberian Alloh Yang Maha Kuasa. Keyakinan ini membuat seseorang tidak merasa keberatan betapa pun kecil dan sedikit nikmat Alloh yang diperolehnya.


Kedua, syukur dengan lisan. Yaitu, mengakui dengan ucapan bahwa semua nikmat berasal dari Alloh swt. Pengakuan ini diikuti dengan memuji Alloh melalui ucapan alhamdulillah. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah.


Ketiga, syukur dengan perbuatan. Hal ini dengan menggunakan nikmat Alloh pada jalan dan perbuatan yang diridhoi-Nya, yaitu dengan menjalankan syariat , menta'ati aturan Alloh dalam segala aspek kehidupan


Keempat, syukur dengan mengajak dan berdakwah. Ketika kita merasa pentingnya beryukur, kita akan mengajak dan mengingatkan orang lain untuk bersyukur. Mempererat Ukhuwah dengan saling nasehat-menasehati dan tolong-menolong dengan sesama secara IKHLAS.


Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini mengingatkan untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Alloh) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik.


Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Alloh merupakan salah satu kewajiban seorang muslim. Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Alloh, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong yang pantas mendapat adzab Allah SWT.


Allah telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya: "Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu." (QS al-Baqarah:152)


Ahli Tafsir, Ali Ash Shobuni menjelaskan bahwa yang dimaksud "Ingat kepada Alloh" itu adalah dengan Ibadah dan Ta'at, maka Alloh akan ingat kepada kita, artinya memberikan pahala dan ampunan. Selanjutnya kita wajib bersyukur atas nikmat Allah dan jangan mengingkarinya dengan berbuat dosa dan maksiat.


Telah diriwayatkan bahwa Nabi Musa as pernah bertanya kepada Tuhannya: "Ya Robb, bagaimana saya bersyukur kepada Engkau? Robbnya menjawab: "Ingatlah Aku, dan janganlah kamu lupakan Aku. Jika kamu mengingat Aku sungguh kamu telah bersyukur kepadaKu. Namun, jika kamu melupakan Aku, kamu telah mengingkari nikmatKu".


Di zaman sekarang ini, betapa banyak orang merefleksikan rasa bersyukur, namun dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Untuk itu, para ulama telah menggariskan tata cara bersyukur yang benar, yakni dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah swt dan meninggalkan maksiat.


Alloh swt telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa orang-orang yang mau bersyukur atas nikmat yang diberikanNya sangatlah sedikit. Kebanyakan manusia ingkar terhadap nikmat yang diberikan Alloh kepada mereka. "Sesungguhnya Alloh benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas umat manusia, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukurinya." [QS Yunus: 60]


"Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut yang kamu berdoa kepadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur." Katakanlah: "Alloh menyelamatkan kamu daripada bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukanNya." (QS Al-An'aam: 63-64).


Ketika manusia ditimpa berbagai macam kesusahan mereka segara berdoa dan berjanji untuk bersyukur pada Allah jika bencana itu dihindarkanNya. Akan tetapi, ketika Allah menghindarkan mereka dari bencana itu, mereka lupa bersyukur bahkan kembali mempersekutukan Allah swt. Betapa banyak orang menangis, meratap, memelas dan merengek-rengek meminta kepada Alloh swt agar dihindarkan dari kesusahan hidup; masalah pribadi, soal pekerjaan, musibah, dsb. Akan tetapi, ketika Alloh menghindarkan mereka dari kesusahan mereka kembali lalai, bermaksiat, bahkan menerapkan aturan-aturan selain aturan Allah. Bukankah hal ini termasuk telah menyekutukan Allah swt?


Jangan sampai menunggu nikmat tersebut diambil kembali Allah, baru kita menyadari pentingnya bersyukur kepada Allah SWT. Wallahu a'lam


Sumber : http://www.percikaniman.org

Rabu, 13 Juli 2011

JANGAN SALAH BERDOA


Oleh: Prof Dr Yunahar Ilyas


Saya memiliki sahabat yang sangat beruntung. Tidak hanya kuliah di luar negeri, tetapi juga mendapat kesempatan bermukim di dua kota suci yang menjadi idaman banyak orang Islam. Selama empat tahun belajar di Madinah, dia dapat sepuasnya shalat di Masjid Nabawi, bahkan tidak terhitung shalat di Raudhah, satu taman surga di dunia ini. Begitu juga setelah bermukim di Makkah, dia dapat melaksanakan shalat berjamaah lima waktu, kecuali Ashar, karena lebih banyak dilaksanakan di kampus.


Setiap habis shalat, dia tak pernah lupa berdoa. Yang paling sering dia minta dalam doanya adalah semoga Allah SWT memudahkan jalan baginya menghajikan kedua orang tuanya. Tatkala melepas kepergiannya dulu ke Tanah Suci, sang ibu berkata dengan suara lirih: "Nak, apakah Ibu suatu saat mungkin sampai ke Tanah Suci itu, mencium Hajar Aswad dan berdoa di Multazam?" Setiap kali ingat pertanyaan ibunya itu, dia semakin khusyuk berdoa agar Allah memperkenankan doanya.


Alhamdulillah, doa sahabat saya terkabul. Dari hasil menyisihkan beasiswa setiap bulan, dan nyambi bisnis kecil-kecilan pada musim haji, dia dapat menghajikan kedua orang tuanya. Tidak henti-henti dia mensyukuri nikmat Allah yang tak terhingga itu. Sekarang musim haji sudah berlalu, kedua orang tuanya sudah kembali ke Tanah Air, sahabat saya konsentrasi menghadapi ujian yang sangat menentukan.


Semester ini, sahabat saya hanya mengambil satu mata kuliah. Jika satu mata kuliah ini tidak lulus juga, dia masih diberi kesempatan untuk menempuh ujian sekali lagi. Jika tidak lulus, dia akan drop out (DO). Dia optimistis lulus karena satu semester ini hanya belajar satu mata kuliah. Semua buku wajib dan yang dianjurkan profesor sudah dipelajarinya. Tetapi sayang, setelah nilai diumumkan, dia tetap tidak lulus.


Akhirnya, dia belajar lagi untuk persiapan ujian ulangan sebulan lagi. Ini ujian sangat menentukan nasibnya, terus kuliah apa pulang kampung. Profesor mata kuliah itu sudah didatanginya, memohon pengertian. Dengan dingin sang profesor menjawab: "Biasa, ujian itu ada yang lulus ada yang tidak". Apa yang dia khawatirkan itu, terjadi juga, dia tetap tidak lulus dan akhirnya apa boleh buat, dia DO.


Sebelum meninggalkan Kota Makkah, sahabat saya itu mencoba mengingat-ingat apa kesalahannya, mengapa dia sampai DO. Tiba-tiba dia ingat, suatu hari pernah berdoa di Multazam dengan penuh kekhusyukan: "Ya Allah. Izinkan aku menghajikan kedua orang tuaku. Kumohon ya Allah. Asal aku dapat menghajikan kedua orang tuaku, kuliahku DO juga tidak apa-apa ya Allah."


Sahabat saya sadar dia telah salah berdoa. Akhirnya, dia berdoa lagi dengan sepenuh hati di Multazam, memohon ampun atas kesalahannya dalam berdoa. Harusnya dia meminta kedua-duanya, dapat menghajikan kedua orang tua dan lulus ujian dengan nilai baik. Setelah memperbaiki doanya, dia coba lagi melamar strata dua di universitas lain di Arab Saudi.


Alhamdulillah, dengan karunia dan izin Allah, dia diterima lagi kuliah S2 di kampus lain. Sekarang sahabat saya itu sudah menyelesaikan pendidikan doktornya dan berkiprah di Tanah Air. Itulah pelajaran dari sahabat saya, jangan salah berdoa, memohon kepada Allah.


Sumber : http://www.republika.co.id


Rabu, 22 Juni 2011

RAHASIA MENGUBAH TAKDIR

Bisakah Mengubah Takdir?

Banyak orang malas yang menjadikan takdir sebagai dalih atas kemalasannya. Padahal, takdir itu bisa diubah. Memang, tidak semua takdir bisa diubah. Misalnya, jika kita ditakdirkan sebagai seorang laki-laki, tidak bisa diubah menjadi seorang perempuan. Kita memang tidak bisa mengubah takdir yang sudah terjadi sebab waktu memang diciptakan tidak bisa mundur. Yang dimaksud mengubah takdir disini ialah mengubah takdir dimasa mendatang.


Lalu bagaimana cara kita mengubah takdir? Cara yang benar dan tepat, tentu saja harus bersumber dari Pembuat takdir yang tiada lain Allah SWT melalui Al Quran dan Hadits Nabi saw.


Bagi Anda yang belum tahu, bahwa takdir bisa diubah, silahkan simak hadist berikut:


Hadits dari Imam Turmudzi dan Hakim, diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi SAW Bersabda : “Barangsiapa hatinya terbuka untuk berdo’a, maka pintu-pintu rahmat akan dibukakan untuknya. Tidak ada permohonan yang lebih disenangi oleh Allah daripada permohonan orang yang meminta keselamatan. Sesungguhnya do’a bermanfa’at bagi sesuatu yang sedang terjadi dan yang belum terjadi. Dan tidak ada yang bisa menolak taqdir kecuali do’a, maka berpeganglah wahai hamba Allah pada do’a”. (HR Turmudzi dan Hakim)


Cara Mengubah Takdir, Mengubah Takdir Dengan Berdo’a.


Allah yang menetapkan takdir kita, maka Allah memiliki kuasa untuk mengubahnya, artinya takdir baru bagi kita. Mengubah takdir artinya Allah menggantinya dengan takdir baru. Tetap, Allah yang menetapkan takdir. Cara pertama ialah dengan berdo’a seperti yang dijelaskan pada hadits diatas.


Cara Kedua adalah bersedekah. Rasulullah SAW pernah bersabda : “Silaturrahmi dapat memperpanjang umur dan sedekah dapat merubah taqdir yang mubram” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Imam Ahmad)


Cara Ketiga adalah bertasbih. Ada hadits yang diriwayatkan dari Sa’ad Ibnu Abi Waqosh, Rasulullah bersabda :

Maukah kalian Aku beritahu sesuatu do’a, yang jika kalian memanfa’atkan itu ketika ditimpa kesedihan atau bencana, maka Allah akan menghilangkan kesedihan itu? Para sahabat menjawab : “Ya, wahai Rasululullah, Rasul bersabda “Yaitu do’a “Dzun-Nun : “LA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINADH-DHOLIMIN” (Tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang-orang yang dholim”).(H.R. Imam Ahmad, At-Turmudzi dan Al-Hakim).


Cara keempat ialah dengan bershalawat ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ubay Ibnu Ka’ab, bahwa ada seorang laki-laki telah mendedikasikan semua pahala sholawatnya untuk Rasulullah SAW, maka Rasul berkata kepada orang tersebut : “Jika begitu lenyaplah kesedihanmu, dan dosamu akan diampuni(H.R Imam Ahmad At-Tabroni).


Jadi, jangan pernah berhenti berdo’a dan berusaha. Seburuk apa pun kondisi saat ini, semuanya masih bisa berubah. Bagaimana pun pahitnya pengalaman kita dimasa lalu, masih bisa berubah. Optimis selalu Anda bisa mengubah takdir Anda menjadi lebih baik.


Sumber http://www.motivasi-islami.com/


Kamis, 31 Maret 2011

BAGAIMANA AGAR BISA KONSISTEN MERAIH SUKSES


Banyak yang mengatakan, konsisten adalah sesuatu yang paling berat. Tetapi kita tidak punya pilihan lain, jika Anda ingin sukses dalam jangka panjang, konsisten harus menjadi bagian hidup Anda. Tidak bisa tidak.

Konsisten menjadi kata yang paling ditakuti. Banyak orang yang menghindari kata ini, mereka ingin sukses secara instan tanpa harus melewati kata konsisten. Sayangnya itu tidak ada.
Kosistensi juga sering menjadi penghambat sukses. Banyak orang yang memiliki ilmu banyak, namun dia tetap tidak berhasil karena dia tidak konsisten mengamalkan ilmunya. Lalu, bagaimana agar bisa konsisten meraih sukses?

Mulailah Konsisten Dari Yang Kecil

Saya teringat sebuah hadits tentang konsistensi. Amalan-amalan yang paling disukai Allah ialah yang lestari (langgeng atau berkesinambungan) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)

Jangan disalahartikan, kata sedikit disini bukan berarti menyuruh sedikit. Kata ustadz saya, hadist ini menekankan pada berkesinambungannya. Artinya amal yang dilakukan secara lestari itu disukai Allah. Tentu saja, apa lagi jika kita melakukan amal yang banyak dan berkesinambungan.

Tetapi untuk langsung menjalankan amal yang banyak dan kontinyu akan sulit sekali. Utamakan dulu keberlangsungannya meski sedikit. Setelah terbiasa dengan yang sedikit, insya Allah akan lebih mudah untuk melakukan amal yang lebih banyak.

Begitu juga untuk mencapai keberhasilan. Anda bisa memulai melakukan sesuatu yang kecil dulu, tetapi lakukanlah dengan konsisten. Jika Anda ingin sukses ngeblog misalnya, mulailah dengan melakukan komentar pada blog orang lain sepatah dua patah kata secara konsisten. Suatu saat, Anda akan menjadi seorang blogger besar.

Jika Anda ingin menjadi pebisnis, mulailah melakukan hal kecil dulu secara konsisten. Misalnya baca artikel tentang bisnis. Atau bisa juga mulai menjual produk, meski sedikit tetapi Anda konsisten menjual. Lama kelamaan, kemampuan dan mental Anda akan terbentuk menjadi pebisnis yang handal.

Jadi, agar Anda bisa konsisten, mulailah dengan yang kecil dulu.

Ingatlah Nilai Tindakan Anda Sekecil Apa Pun

Saat Anda membaca Al Quran, setiap huruf akan mendapatkan balasan dari Allah. Ya, setiap huruf. Artinya sekecil apa pun ibadah itu akan bernilai. Agama mengajarkan agar kita merasakan dan mengingat nilai amal kita sekecil apa pun. Manfaatnya, sampai sekarang lantunan ayat suci Al Quran tidak pernah berhenti. Banyak orang yang secara konsisten membaca Al Quran.
Begitu juga untuk meraih sukses lainnya. Jika Anda melakukan sesuatu yang akan membawa kepada keberhasilan, maka ingatlah setiap langkah Anda akan mendekatkan kepada sukses. Jika Anda sedang berkerja, ingatlah setiap ketikan Anda di komputer akan membawa hasil. Jika Anda menabung untuk menunaikan ibadah haji, setiap setoran akan mendekatkan Anda ke tanah suci.

Jika Anda seorang penjual, setiap Anda menawarkan produk, artinya Anda akan semakin dekat ke pembeli. Meski pun Anda mendapatkan penolakan, artinya Anda akan semakin dekat dengan orang yang membutuhkan produk Anda. Jika Anda seorang pebisnis, ingatlah setiap usaha pemasaran akan menumbuhkan bisnis Anda.

Setiap langkah, setiap tindakan, dan setiap ucapan yang benar adalah bernilai dan akan mengantarkan Anda kepada keberhasilan. Jika Anda mengingat itu, maka sekecil apa pun manfaatnya, bahkan tidak dirasakan secara langsung, Anda akan tetap konsisten melakukannya.

Agar Konsisten, Pengawasan Sering Diperlukan

Jika Anda masih sulit untuk konsisten, mungkin Anda perlu bantuan orang lain untuk mengawasi Anda. Jika Anda seorang pekerja, Anda tentu diawasi oleh atasan Anda. Jika kurang diawasi, Anda bisa meminta untuk diawasinya. Aneh memang, banyak orang yang menghindar dari pengawasan atasan, tetapi jika Anda ingin sukses, mintalah diawasi.
Bisa juga pasangan hidup, istri atau suami Anda. Mintalah pasangan Anda untuk mengingatkan jika Anda tidak konsisten melakukan sesuatu. Bahkan, anak pun bisa mengawasi kita. Jika masih punya orang tua, orang tua pun bisa mengawasi konsistensi Anda.

Jika perlu, milikilah seorang mentor. Anda bisa mendapatkan pengawasan dari seorang mentor. Bahkan, jika perlu Anda bisa mencari seorang “komandan” yang mengawasi tindakan Anda dan mampu memberikan hukuman bagi Anda. Kenapa tidak?

Jadi ada tiga ide agar Anda bisa konsisten, yaitu mulailah dari yang kecil, mengingat nilai dari setiap tindakan sekecil apa pun, dan jika perlu mintalah seseorang untuk mengawasi Anda. Sebenarnya masih ada ide-ide lain agar Anda bisa konsisten, insya Allah lain kali dibahas.

Penulis Artikel Rahmat ST ;
Sumber Artikel http://www.motivasi-islami.com


Senin, 13 Desember 2010

ZIKIR BA'DA SHALAT WAJIB

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Siapa yang tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, takbir tiga puluh tiga kali, jadi jumlahnya sembilan puluh sembilan kali, kemudian disempurnakan menjadi seratus kali dengan membaca "Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa 'ala kulli syain qodir, maka diampuni Allah segala kesalahannya walaupun sebanyak buih di lautan."? (H.R. Muslim)

LINK BANNER